Berita Terpilih

Pendidikan Karakter Berdasarkan Tahapan Perkembangan Moral Anak

Fri, 01/03/2014 - 18:41 -- nofrilawati

Seperti halnya perkembangan motorik, mental, dan sosial anak yang berjalan secara bertahap dan memerlukan pendekatan yang patut sesuai dengan tahapan umur anak, pendidikan karakter yang diberikan kepada anak juga harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan moral anak.

Untuk mencapai tingkatan moral tertinggi, beberapa pakar telah menyusun tahapan-tahapan perkembangan moral individu, yang sebetulnya satu sama lain adalah saling melengkapi. Tahapan atau fase-fase tersebut diuraikan sebagai berikut :

1. Fase Bayi : Menbangun Fondasi Moral
Peran orang tua dalam fase ini begitu besar, karena fondasi moral dibentuk dalam fase ini. Cinta dan kasih sayang dari orang tua sangat dibutuhkan dalam fase ini. Anak-anak usia bayi sangat membutuhkan kelekatan psikologi antara orang tua dan anak, ekspresi cinta, responsif terhadap kebutuhan anak, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental, kesimbangan antara cinta dan otoritas.

2. Fase 1 : Berfikir Egosentris (Self-oriented Morality)
Fase ini adalah fase dimana anak berfikir sangat egois, sehingga sulit untuk bebagi mainan dengan kawan-kawannya. Fase ini bisa bermula pada usia 1 sampai 5 tahun. Pada masa ini anak mau berbuat baik kalau ada insentif (hadiah atau pujian), dan takut mendapatkan hukuman kalau bersalah. Memberikan pendidikan karakter pada anak-anak fase ini bisa dilakukan dengan memberikan insentif agar anak berperilaku baik.

3. Fase 2 : Patuh Tanpa Syarat (Authority-oriented morality)
Fase ini anak percaya sekali kepada definisi baik dan buruk menurut figur otoritas, seperti orang tua atau guru. Fase ini berkisar antara usia 4,5 sampai 6 tahun. Anak-anak pada usia ini lebih mudah menurut dan diajak kerja sama, sehingga mereka mudah mengerjakan perintah orang tua dan guru. Alasan mereka ingin patuh karena agar terhindar dari masalah atau hukuman. Pada fase ini pendidikan karakter dapat diberikan secara kontrol eksternal dimana guru dapat secara otoritatif mengajarkan moral baik atau buruk.

4. Fase 3 : Memenuhi Harapan Lingkungan (Peer-oriented Morality)
Anak-anak dalam fase ini ingin diterima oleh kawan-kawannya, sehingga tindakannya cenderung ingin disesuaikan dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan sebayanya. Masa ini berlangsung pada usia 8,5 sampai 14 tahun.

5. Fase 4 : Ingin Menjaga Kelompok (Collective-Oriented Morality)
Pada fase ini anak merasa bahwa ia mempunyai tugas untuk menjaga keutuhan kelompoknya. Mayoritas remaja usia 16 sampai 19 tahun diharapkan sudah dapat mencapai tahapan moral ini, yaitu kepatuhan terhadap aturan dan kode etik yang berlaku dalam masyarakat. Para remaja yang mencapai tahapan moral ini adalah mereka yang sudah tahu bagaimana berperilaku sebagai warganegara yang baik.

6. Fase 5 : Moralitas Tidak Berpihak (Objectively Oriented Morality)
Fase ini adalah tahapan moral tertinggi yang seharusnya dicapai manusia, karena mengacu kepada prinsip moral universal, yaitu tidak tergantung pada kepentingan pribadi, atau kepentingan kelompok. Fase ini bisa dicapai pada usia 20 tahun. Mereka yang sudah mencapai tahap ini akan mengacu kepada moral hati nurani. Manusia yang sudah mencapai tahapan moral seperti ini tidak akan mudah terprovokasi atau termakan oleh propaganda dari para pemimpinnya, karena kesadaran nuraninya hanya berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral yang menghargai setiap manusia, walaupun berbeda sistem sosialnya. Namun, sedikit manusia yang dapat mencapai tahapan moral ini.

Sumber : Megawangi, Ratna, (2004). Pendidikan Karakter Solusi untuk Membangun Bangsa.

Category: